Wednesday, April 8, 2020

Internet Addiction


Review Jurnal tentang Internet Addiction
Judul
“Hubungan antara Kemampuan Sosialisasi dengan Kecanduan Jejaring Sosial”
Tahun
2013
Penulis
Nurmandia, Heny, Denok Wigati, dan Luluk Masluchah
Jurnal
Penelitian Psikologi
Volume
Vol. 04, 107-119







A.    ABSTRAK
Jejaring social/internet saat ini sedang berkembang dikalangan masyarakat. Oleh karena itu berbagai aspek yang menyangkut tentang teknologi ini harus terus dipelajari dan dikembangkan. Saat ini sekitar 5-10 % pengguna internet mangalami kecanduan, mayoritas adalah pengguna game online, sisanya pengguna media sosial.
Kecanduan internet atau internet addiction merupakan fenomena yang mencemaskan dan menarik perhatian. Internet telah membuat remaja kecanduan karena menawarkan berbagai informasi, permainan, dan hiburan. Hal ini ditandai rasa senang dengan internet, durasi penggunaan internet terus meningkat, menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet. Pecandu internet tidak dapat menghentikan keinginan untuk online sehingga kehilangan kontrol dari penggunaan internet dan kehidupannya. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengguna internet dapat beresiko mengalami kecanduan internet (internet addiction), dimana internet menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

B.     PENDAHULUAN
Internet merupakan media komunikasi dan informasi modern yang dapat dimanfaatkan secara global oleh pengguna diseluruh dunia dalam interkoneksi antar jaringan komputer yang terbentuk melalui sarana berupa penyedia akses (provider) internet, sehingga internet sebagai media informasi dapat menjadi sarana yang efektif dan efisien untuk melakukan pertukaran dan penyebaran informasi tanpa terhalang oleh jarak, perbedaan waktu dan juga faktor geografis bagi seseorang yang ingin mengakses informasi. Namun dengan kemajuan teknologi informasi sekarang ini hampir setiap hari, jam, bahkan menit masyarakat cenderung asik dengan berinternetan ria. Mulai dari mengerjakan tugas/pekerjaan atau bahkan hanya mengecek sosial media mereka.
Menurut Pusat Internet Addiction Recovery (ironic), penelitian telah menunjukkan bahwa semakin banyak orang di seluruh dunia telah menjadi kecanduan aktivitas online seperti game, perjudian dan browsing. Di Indonesia tingkat penyalahgunaan internet semakin meningkat seperti menyebar luasnya situs-situs pornografi, dan situs-situs yang cenderung bersifat kekerasan, dimana penggunaan internet tersebut memiliki kecenderungan membuat penggunanya asyik di depan komputer hingga melupakan waktu. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengguna internet dapat beresiko mengalami kecanduan internet (internet addiction), dimana internet menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.
Individu yang mengalami kecanduan internet, terlalu asyik dengan dunianya sendiri sehingga tidak perduli dengan orang lain dan lingkungan di sekitar. Efek dari kecanduan internet dapat dilihat dalam bidang akademik, hubungan (relationship), pekerjaan (occupational), keuangan (financial), fisik, dan mendapatkan masalah psikologi yang serius di kemudian hari. Untuk itu perlu adanya sistem yang dapat mendukung para pakar atau para ahli psikolog dalam hal mencegah dan mendiagnosis dini agar efek yang ditimbulkan tidak merugikan remaja tersebut. Pengetahuan sistem pakar direpresentasikan dalam format tertentu, dan dihimpun dalam suatu basis pengetahuan. Basis pengetahuan ini selanjutnya dipakai sistem pakar untuk menentukan penalaran atas problema yang dihadapinya.

C.     PEMBAHASAN
Internet addiction adalah penggunaan internet yang bersifat patologis, yang ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk mengontrol waktu menggunakan internet, merasa dunia maya lebih menarik dibandingkan kehidupan nyata, dan mengalami gangguan dalam hubungan sosialnya.
Internet addiction merupakan suatu gangguan psikofisiologis yang meliputi, whithdrawal symptoms (khususnya menimbulkan termor, kecemasan, dan perubahan mood), gangguan afeksi (depresi, sulit menyesuaikan diri), dan terganggunya kehidupan sosial (menurun atau hilang sama sekali, baik dari segi kualitas maupin kuantitas). Internet addiction diartikan sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online di internet dalam.
1.      Penyebab Internet Addiction
Ferris mengungkapkan penyebab seseorang mengalami internet addiction dilihat dari berbagai pandangan, yaitu :
a.       Pandangan Behaviorism
Menurut pandangan behavior, internet addiction didasari oleh teori B.F Skinner mengenai operant conditioning, individu mendapatkan reward positif, negatif, atau hukuman atas apa yang dilakukannya.
b.      Pandangan Psikodinamika dan Kepribadian
Pandangan ini mengemukakan addiction berkaitan antara individu tersebut dengan pengalamannya. Tergantung pada kejadian pada masa anak-anak yang dirasakan individu tersebut saat masih anak-anak dan kepribadiannya yang terus berkembang, yang juga mempengaruhi perkembangan suatu perilaku addictive, ataupun yang lainnya.
c.       Pandangan Sosiokultural
Pandangan sosiokultural menunjukkan ketergantungan ini tergantung pada jenis kelamin, umur, dan negara.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Internet Addiction
Faktor-faktor yang mempengaruhi internet addiction, diantaranya :
a.       Gender
Gender mempengaruhi jenis aplikasi yang digunakan dan penyebab individu tersebut mengalami internet addiction. Laki-laki tertarik pada hal-hal yang dapat menunjukkan dominasinya dan fantasi seksual online, contohnya game online, situs porno, dan perjudian online. Sedangkan perempuan tertarik pada membina hubungan lebih akrab, hubungan romantis, dan lebih suka berkomunikasi dengan menyembunyikan identitasnya, contohnya chatting, eBay dan berbelanja online. Hal ini menunjukkan bahwa atribut gender juga sama-sama berperan dalam dunia internet sebagaimana stereotipe antara lakilaki dan perempuan di dunia nyata.
b.      Kondisi psikologis
Internet addiction menimbulkan masalah-masalah emosional seperti depresi, dan gangguan kecemasan dan seringkali menggunakan dunia fantasi di internet sebagai pengalihan secara psikologis terhadap perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan atau situasi yang menimbulkan stres.
c.       Kondisi sosial ekonomi
Individu yang sudah bekerja memiliki kemungkinan lebih besar mengalami internet addiction dibandingkan dengan individu yang belum bekerja memiliki fasilitas internet di kantornya dan juga memiliki sejumlah gaji yang memungkinkan individu tersebut memiliki fasilitas komputer dan internet juga dirumahnya, dibandingkan dengan individu yang belum bekerja.
Individu yang menggunakan ineternet untuk tujuan pendidikan, misalnya pada pelajar dan mahasiswa akan lebih banyak menghabiskan waktunya menggunakan internet. Bagitu juga individu yang menggunakan internet untuk tujuan pekerjaan, terutama pekerja yang ahli komputer, sistem analis, dan sebagainya. Umumnya, individu yang menggunakan internet cukup jelas, dan bukan digunakan sebagai upaya untuk mengatasi atau melarikan diri dari masalahmasalah yang dihadapinya di kehidupan nyata atau sekedar hiburan, misalnya kesulitan membangun hubungan sosial, ketidakharmonisan dalam kehidupan rumah tangga, dan sebagainya.

3.      Mengatasi Internet Addiction
Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi internet addiction :
1)      Melatih hal yang tidak biasa dilakukan
Sebuah reorganisasi bagaimana waktu seseorang dikelola adalah elemen utama dalam pengobatan pecandu internet. Oleh karena itu, dokter harus mengambil beberapa menit dengan pasien untuk mempertimbangkan kebiasaan saat menggunakan Internet. Dokter harus meminta pasien,
(a) Berapa hari dalam seminggu anda biasanya log on-line?
(b) Jam berapa anda biasanya mulai?
(c) Berapa lama anda biasanya menggunakan internet?
(d) Di mana Anda biasanya mengakses internet?
Setelah dokter telah dievaluasi sifat khusus dari pasien penggunaan Internet, perlu untuk membangun jadwal baru dengan klien. Tujuan dari latihan ini adalah agar  pasien kembali ke rutinitas normal mereka dan kembali beradaptasi-pola waktu baru digunakan dalam upaya untuk menghentikan kebiasaan on-line. Sebagai contoh, katakanlah kebiasaan Internet pasien melibatkan memeriksa e-mail hal pertama di pagi hari. Sarankan agar pasien mandi atau mulai sarapan pertama bukan log on. Atau, mungkin pasien hanya menggunakan internet di malam hari, dan memiliki pola mapan pulang dan duduk di depan komputer untuk sisa malam. Dokter mungkin menyarankan kepada pasien untuk menunggu sampai setelah makan malam dan berita sebelum log on. Jika ia menggunakan setiap hari kerja, memiliki dia menunggu sampai akhir pekan, atau jika ia adalah pengguna sepanjang akhir pekan, memiliki shift hanya hari kerja.
2)      Penggunaan alat bantu untuk memberhentikan kebiasaan
Teknik sederhana lain adalah dengan menggunakan hal-hal konkret bahwa pasien perlu dilakukan untuk menjadi sebagai prompters untuk membantu log off. Jika pasien harus berangkat kerja pukul 7:30 am, dia log in di 6:30, meninggalkan tepat satu jam sebelum waktunya untuk berhenti. Bahaya dalam hal ini adalah pasien dapat mengabaikan alarm alami. Penentuan waktu yang pasien lalukan akan mengakhiri sesi Internet dan diatur alarm dan memberitahu pasien untuk tetap dekat komputer. Ketika kedengarannya, sekarang saatnya untuk log off.
3)      Menetapkan Tujuan.
Banyak upaya untuk membatasi penggunaan internet gagal karena pengguna bergantung pada rencana untuk memangkas jam tanpa menentukan kapan mereka tersisa slot on-line akan datang. Untuk menghindari kambuhnya kecanduan internet, sesi terstruktur harus diprogram untuk pasien dengan menetapkan tujuan yang wajar, mungkin 20 jam, bukan arus 40. Lalu, jadwal dua puluh jam dalam slot waktu tertentu dan menulis mereka ke kalender atau perencana mingguan. Pasien harus menjaga sesi Internet singkat tapi sering. Ini akan membantu menghindari nafsu dan penarikan. Sebagai contoh jadwal 20 jam, pasien mungkin berencana untuk menggunakan internet dari 8 sampai 10 pm setiap hari kerja, dan 1 sampai 6 pada hari Sabtu dan Minggu. Atau jadwal 10 jam baru mungkin termasuk dua sesi hari kerja dari 8:00-23:00, dan 08:30-12:30 memperlakukan pada hari Sabtu. Memasukkan jadwal nyata dari penggunaan internet akan memberikan pasien rasa berada dalam kontrol, daripada membiarkan Internet untuk mengambil kendali.
4)      Pantangan
Dalam clinical assessment, aplikasi tertentu seperti chat rooms,  games interaktif, kelompok-kelompok baru, atau World Wide Web mungkin yang paling bermasalah bagi pasien. Jika aplikasi tertentu telah diidentifikasi dan moderasi itu telah gagal, maka pantang dari aplikasi itu adalah intervensi yang tepat berikutnya. Pasien harus menghentikan semua aktivitas di sekitar aplikasi tersebut. Ini tidak berarti bahwa pasien tidak bisa terlibat dalam aplikasi lain yang mereka temukan untuk menjadi kurang menarik atau mereka dengan penggunaan yang sah. Seorang pasien yang menemukan chat room adiktif, mungkin harus pantang mereka. Namun, pasien yang sama ini dapat menggunakan e-mail atau surfing World Wide Web untuk membuat reservasi penerbangan atau berbelanja untuk sebuah mobil baru. Contoh lain mungkin menjadi pasien yang menemukan World Wide Web adiktif dan mungkin harus pantang itu. Namun, pasien yang sama ini mungkin dapat memindai kelompok berita yang terkait dengan topik yang menarik tentang politik, agama, atau peristiwa saat ini. Pantangan yang paling berlaku untuk pasien yang juga memiliki sejarah kecanduan sebelumnya seperti alkoholisme atau penggunaan narkoba. Pasien dengan riwayat premorbid alkohol atau kecanduan obat sering menemukan internet secara fisik "​​aman" kecanduan pengganti. Oleh karena itu, pasien menjadi terobsesi dengan penggunaan internet sebagai cara untuk menghindari kambuh di minum atau penggunaan narkoba. Namun, saat pasien membenarkan Internet adalah "aman" kecanduan, dia masih menghindari berurusan dengan kepribadian kompulsif atau situasi yang tidak menyenangkan memicu perilaku adiktif. Dalam kasus ini, pasien mungkin merasa lebih nyaman bekerja menuju tujuan pantang pemulihan sebelum mereka terlibat model ini. Menggabungkan strategi masa lalu yang telah berhasil untuk pasien ini akan memungkinkan mereka untuk secara efektif mengelola Internet sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada masalah yang mendasari mereka.
5)      Pengingat dalam bentuk notes
Seringkali pasien merasa kewalahan karena, melalui kesalahan dalam pemikiran mereka, mereka membesar-besarkan kesulitan mereka dan meminimalkan kemungkinan tindakan korektif. Untuk membantu pasien tinggal terfokus pada tujuan baik pengurangan penggunaan atau berpantang dari aplikasi tertentu, telah pasien membuat daftar lima masalah utama yang disebabkan oleh kecanduan internet dan lima manfaat besar bagi menebang menggunakan Internet atau berpantang dari aplikasi tertentu. Beberapa masalah yang mungkin terdaftar seperti kehilangan team work dengan pasangan kita, argumen di rumah, masalah di tempat kerja, atau nilai yang buruk. Beberapa manfaat mungkin, menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasangan kita, lebih banyak waktu untuk melihat teman-teman kehidupan nyata, tidak ada lagi argumen di rumah, meningkatkan produktivitas di tempat kerja, atau peningkatan nilai. Yakinkan pasien bahwa itu adalah layak untuk membuat daftar keputusan mereka sebagai luas dan mencakup semua mungkin, dan sejujur ​​mungkin. Semacam ini penilaian yang jelas-berpikiran konsekuensi adalah keterampilan yang berharga untuk belajar, yang pasien butuhkan kemudian, setelah mereka telah ditebang atau cukup Internet, untuk pencegahan kambuh.
6)      Personal Inventory
Apakah pasien sedang mencoba untuk mengurangi atau menjauhkan diri dari aplikasi tertentu, itu adalah waktu yang baik untuk membantu pasien menumbuhkan alternatif kegiatan. Klinisi harus memiliki pasien mengambil inventaris pribadi dari apa yang dia telah mengurangi, atau dipotong, karena waktu yang dihabiskan di Internet. Mungkin pasien menghabiskan lebih sedikit waktu hiking, golf, memancing, berkemah, atau kencan. Mungkin mereka telah berhenti pergi ke permainan bola atau mengunjungi kebun binatang, atau menjadi sukarelawan di gereja. Mungkin itu adalah kegiatan yang pasien selalu menunda berusaha, seperti bergabung dengan pusat kebugaran atau menunda menelepon seorang teman lama untuk mengatur untuk makan siang. Dokter harus menginstruksikan pasien untuk membuat daftar setiap kegiatan atau praktek yang telah diabaikan atau dibatasi karena kebiasaan on-line muncul. Sekarang memiliki peringkat pasien masing-masing pada skala berikut: 1 - Sangat Penting, 2 - Penting, atau 3 - Tidak Sangat Penting. Dalam Peringkat kegiatan ini hilang, memiliki pasien benar-benar mencerminkan bagaimana kehidupan itu sebelum Internet. Secara khusus, memeriksa "Sangat Penting" peringkat kegiatan. Tanyakan pada pasien bagaimana kegiatan ini meningkatkan kualitas hidupnya. Latihan ini akan membantu pasien menjadi lebih sadar akan pilihan ia telah dibuat tentang Internet dan menghidupkan kembali kegiatan hilang setelah menikmati. Ini akan sangat membantu bagi pasien yang merasa gembira ketika terlibat dalam kegiatan on-line dengan memupuk perasaan menyenangkan tentang kegiatan kehidupan nyata dan mengurangi kebutuhan mereka untuk menemukan pemenuhan emosional online.
7)      Support Groups
Beberapa pasien mungkin didorong menuju penggunaan adiktif Internet karena kurangnya dukungan sosial kehidupan nyata. Young (1997) menemukan bahwa dukungan social online memberikan kontribusi untuk perilaku adiktif di antara mereka yang hidup gaya hidup kesepian seperti ibu rumah tangga, single, orang cacat, atau pensiun. Studi ini menemukan bahwa orang-orang menghabiskan waktu yang lama di rumah sendirian beralih ke aplikasi interaktif online seperti chat room sebagai pengganti kurangnya dukungan sosial kehidupan nyata. Selanjutnya, pasien yang baru saja mengalami situasi seperti kematian orang yang dicintai, perceraian, atau kehilangan pekerjaan dapat merespon Internet sebagai selingan jiwa dari masalah kehidupan nyata mereka (Young, 1997). Penyerapan mereka di dunia online sementara membuat masalah seperti memudar ke latar belakang. Jika penilaian peristiwa kehidupan menyingkap adanya situasi maladaptif atau tidak menyenangkan seperti itu, pengobatan harus fokus pada peningkatan kehidupan nyata jaringan dukungan sosial pasien. Dokter harus membantu klien menemukan kelompok pendukung sesuai yang terbaik alamat situasinya nya.
8)      Pengendalian keluarga.
Terakhir, terapi keluarga mungkin diperlukan antara pecandu yang pernikahan dan hubungan keluarga telah terganggu dan negatif dipengaruhi oleh kecanduan internet. Intervensi bersama keluarga harus fokus pada beberapa bidang utama:
(a) Mendidik keluarga tentang bagaimana internet bisa menjadi adiktif,
(b) Mengurangi menyalahkan perilaku pecandu,
(c) Meningkatkan komunikasi terbuka tentang masalah yang timbul di keluarga sehingga tidak mendorong pecandu untuk mencari pemenuhan psikologis kebutuhan emosional didunia internet,
(d) Mendorong keluarga untuk membantu dengan pemulihan pecandu seperti mencari hobi baru, mengambil liburan panjang, atau mendengarkan perasaan pecandu. Sebuah rasa yang kuat dukungan keluarga dapat memungkinkan pasien untuk pulih dari kecanduan internet.
Dampak positif dan dampak negative internet addiction menurut kelompok kami, yaitu :
Dampak Positif
-          Mahir dalam mengoperasikan internet dan computer.
-          Meningkatkan kreatifitas dan wawasan luas dari apa yang didapat dari internet.
-          Dapat mengakses serta mempermudah komunikasi darimanapun dan kapanpun.
-          Mempermudah dalam hal bisnis atau berdagang.
-          Mempermudah untuk mendapatkan informasi.
Dampak Negatif
-          Lupa waktu.
-          Tidak perduli dengan lingkungan sekitar.
-          Kurang mampu dalam berinteraksi sosial.
-          Kurangnya pengendalian diri.
-          Malas belajar.
-          Dapat menunda suatu pekerjaan atau tugas.
Rekomendasi yang dapat kami berikan untuk mengatasi internet addiction berdasarkan teori yang ada
Teori yang kami kaitkan dalam hal mengatasi internet addiction adalah teori Behaviorisme. Jadi, tidak membiasakan untuk menghabiskan waktu sehari-hari dengan internet karena di luar sana masih banyak hal yang lebih menarik yang dapat dipelajari. Tidak salah untuk menggunakan internet atau bermain game, tetapi dengan syarat menggunakannya dengan tidak berlebihan. Sertakan juga peran penting orang tua atau keluarga untuk memberikan edukasi dan mengontrol anak, baik dalam memperhatikan hal-hal yang diakses di internet ataupun dalam hal waktu penggunaan.

D.    PENUTUP
Dewasa ini, internet sudah merupakan bagian dari hidup kita. Sebagian besar orang didunia pasti hampir setiap hari menggunakan internet, karena banyak manfaat dan kegunaan yang dapat dirasakan ketika menggunakan internet. Namun, kita harus juga dapat mengontrol diri jangan sampai kita menjadi pecandu internet dan jangan sampai internetlah yang mengontrol kehidupan kita. Kita harus bersikap bijaksana dalam menggunakan internet. Karena sesuatu yang berlebihan itu akan menjadi tidak baik.

DAFTAR PUSTAKA
Nurmandia, Heny, Denok Wigati & Luluk Masluchah. (2013). Hubungan Antara Kemampuan Sosialisasi Dengan Kecanduan Jejaring Sosial. Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 04, 107-119.


Friday, March 27, 2020

Dampak Negatif Internet dan Teori Psikologi yang Terkait


Artikel :
Dampak Psikologis Teknologi Internet Pada Anak dan Remaja
Pro dan Kontra Teknologi Internet
Teknologi merupakan sehimpunan cara, peralatan, metode, informasi, dan pengorganisasian yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk (barang dan atau jasa) dan secara umum bertujuan untuk memecahkan persoalan tertentu (menjawab persoalan pragmatis) pada mulanya diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Salah satu teknologi yang telah berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi internet. Namun dalam perkembangan selanjutnya sering muncul pro dan kontra terhadap kehadiran teknologi ini.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah “apakah teknologi berpengaruh negatif atau positif dalam kehidupan manusia?”. Para Psikolog memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya. Artinya setiap produk teknologi, termasuk teknologi internet memiliki fungsi positif dan negatif yang sekaligus melekat pada waktu yang bersamaan. Seperti halnya sebuah pisau, fungsi positifnya dapat membantu manusia untuk memotong benda-benda yang besar sehingga lebih mudah untuk dibawa atau diolah. Namun efek negatifnya adalah bila digunakan secara keliru seperti mengancam jiwa orang lain atau bahkan membunuhnya. Begitu pula dengan teknologi internet, tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut.
Oleh karena itu memang tidak mudah untuk membuat penilaian apakah teknologi internet berdampak positif atau negatif, karena jawabanannya sangat tergantung dari sang pengguna teknologi tersebut.
Dampak Teknologi Internet Pada Anak dan Remaja
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, teknologi internet dapat berdampak positif maupun berdampak negatif tergantung dari sang pengguna teknologi. Namun apabila dilihat dari sisi psikologis, dampak ini akan berpengaruh terhadap beberapa aspek perkembangan anak dan remaja, yaitu perkembangan fisik, perkembangan sosial dan emosi, perkembangan inteligensi, dan perkembangan moral.
A.    Dampak negatif teknologi internet Pada Anak dan Remaja
1.      Pada perkembangan fisik
Interaksi antara pengguna (dalam hal ini anak dan remaja) dengan teknologi internet banyak mengurangi aktivitas gerak karena konsep dari teknologi adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga akan banyak mengurangi aktivitas fisiknya. Karena kurang bergerak, anak maupun remaja sering terjangkit obesitas yang dapat memicu ketidakseimbangan hormonal dan metabolism yang dapat menggiring terjadinya serangan jantung. Disamping itu, perkembangan fisik pun banyak mengalami physical decline. Contohnya adalah problem visual seperti kelelahan mata, sakit kepala atau bahkan penglihatan menjadi kabur. Hal ini disebabkan karena cahaya dan radiasi yang yang dipancarkan dari perangkat elektronik.
2.      Pada perkembangan sosial, emosi, dan kepribadian
Pada anak dan remaja, perkembangan emosi tidak lepas dari interaksinya dengan lingkungan sosial. Bila lingkungan sosial yang ada di sekeliling anak berupa lingkungan sosial yang “virtual” dan tidak pada kenyataannya, maka perkembangan emosinya pun cenderung tidak adekuat. Hal ini disebabkan karena umpanbalik dari lingkungan virtual dapat diatur sesuai dengan kehendak individu, sedangkan umpanbalik dari lingkungan nyata belum tentu sesuai dengan kehendak individu sehingga individu pun harus mengembangkan keterampilan sosial dan emosi untuk mengatasinya.
Saat ini telah dikembangkan berbagai jejaring sosial yang dapat mendukung terciptanya suatu lingkungan sosial “virtual”. Pada anak-anak dan remaja, pengaruh negatif dari jejaring sosial ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :
a.       Hilangnya privasi
Tidak sebagaiamana orang dewasa, anak-anak dan remaja akan cenderung tidak mencantumkan identitas nyata dalam jejaring sosial yang mengakibatkan mereka rentan terhadap hilangnya privasi mereka serta kemungkinan abuse terhadap foto atau video yang kurang appropriate yang mereka posting didalam jejaring sosialnya.
b.      Cyber-Bullying
Anak-anak dan remaja belum cukup matang untuk memahami dampak dari informasi yang dimunculkan dalam jejaring sosial sehingga banyak terjadi kasus perkelahian yang dimulai dari komentar atau status namun dianggap sebagai ejekan atau bullying melalui jejaring sosial.
c.       Stranger-Danger
Anak-anak dan remaja masih kurang aware terhadap bahaya dari orang yang tak dikenal atau yang mengenal mereka namun memalsukan identitasnya dalam jejaring sosial. Menurut Pew Research Center, "32% dari remaja online telah dihubungi oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan 7% dari remaja online tersebut mengatakan mereka merasa takut atau tidak nyaman sebagai akibat dari kontak dengan orang yang tak dikenal secara online. Di Indonesia bahkan kasus remaja yang diculik dan kemudian diperkosa oleh orang tak dikenal melalui jejaring sosial banyak terjadi.
d.      Cyber-Stalking
Kejujuran anak-anak dan remaja dalam jejaring sosial seperti melakukan posting tentang bagaimana rumah mereka, di mana sekolah mereka, menyebabkan orang asing yang berniat jahat sangat mudah untuk membuntuti atau bahkan membujuk mereka untuk bertemu muka dan akhirnya bisa melakukan tindak kejahatan terhadap mereka.
Beberapa interaksi anak dengan teknologi elektronik juga dapat berdampak pada perkembangan aspek emosi yang tidak adekuat. Bila teknologi elektronik seperti komputer dan koneksi internetnya digunakan tanpa kontrol yang baik, maka akan menyebabkan tingginya risiko untuk menjadi ketergantungan (addiction). Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain.
Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya. Padahal, menurut para Psikolog, hal ini tidak benar dan tidak sehat.
Michelle Weil, seorang Psikolog dan pengarang buku terkenal, memberikan contoh konkrit tentang seorang gadis yang dijauhi oleh teman-temannya lalu kemudian menghabiskan waktu untuk mojok berchatting ria dengan menampilkan karakter yang sangat kontradiktif dengan karakter aslinya. Akibatnya, lama kelamaan ia semakin jauh dengan kenyataaan sosial yang ada, bahkan tidak bisa menerima diri apa adanya. Menurut pakar psikoanalisa terkenal seperti Erich Fromm, kondisi demikian dinamakan neurosis. Kondisi neurosis yang berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang serius. Michelle lebih lanjut menambahkan, bahaya latennya adalah terbentuknya kepribadian online yang berbeda dengan yang asli.
3.      Pada perkembangan inteligensi
Anak-anak jaman sekarang diduga menggunakan otak mereka secara berbeda dengan anak-anak pada generasi sebelumnya. Berarti cara pengajaran maupun evaluasi yang dilakukan saat ini pun belum tentu efektif untuk menggambarkan kecerdasan mereka.. Dampak negatif dalam inteligensi dibuktikan oleh Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi sinaptik pada Lincoln College, Oxford, dan direktur Royal Institution. Dia berpendapat bahwa anak-anak yang menggunakan teknologi internet secara berlebihan akan memiliki kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang perhatian, kebutuhan melakukan stimulasi secara segera atau tidak sabar, dan ‘rasa kebingungan dalam identitas’. Selain itu teknologi internet juga berdampak pada penalaran kritis. Karena hampir semua informasi telah tersedia sehingga anak-anak pun menjadi kurang terampil dan cenderung berkonsentrasi hanya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama. Hal ini akan menyulitkan anak-anak untuk memecahkan masalah yang membutuhkan waktu pendek dan kompleks.

4.      Pada perkembangan moral
Dampak dalam perkembangan moral terutama terjadi karena pemaparan pada situs-situs yang banyak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Banyak kasus tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada anak yang baik pelaku maupun korbannya adalah anak-anak dan remaja akibat beredarnya berbagai situs internet yang tidak dikontrol baik oleh para orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak di Indonesia.
Dampak negatif dalam perkembangan moral juga dapat terjadi karena adanya kesempatan untuk mengunduh isi situs tanpa ijin. Tidak sedikit orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mencuri bahkan mungkin memberikan hukuman bila ketahuan anaknya mencuri. Namun bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat teknologi, misalnya mengunduh secara illegal baik lagu maupun film dengan berbagai cara, maka hukuman pun tidak diberikan.
Secara umum efek teknologi terhadap perkembangan moral diulas oleh Susan Willard dari University of Oregon melalui 4 faktor utama yang muncul dalam interaksi antara anak dengan teknologi internet, yakni:
a.       Lack of Affective Feedback and Remoteness from Harm
Dalam dunia nyata, suatu perilaku memiliki konsekuensi yang akan dirasakan langsung. Misalkan pada saat seorang anak bertemu anak lain dan melontarkan komentar negatif maka anak yang mengejek akan langsung menerima konsekuensi mulai dari jawaban penentangan sampai dengan perlawanan fisik bila anak yang diejeknya merasa tersinggung. Namun melalui komputer, perilaku negatif seperti di atas tidak akan secara langsung dirasakan dampaknya. Kondisi ini dapat menyebabkan anak mengembangkan perilaku moral yang tidak adekuat karena konsekuensi dari perilakunya sering tidak dirasakan secara langsung.
b.      Reduced Fear of Risk of Detection and Punishment
Interaksi melalui komputer juga dapat dilakukan secara anonim atau dengan memalsukan identitas. Hal ini menyebabkan individu dengan mudah dapat menghindar dari hukuman atau tanggungjawab atas perilaku keliru yang dilakukannya.
c.       New Environment Means New Rules
Dunia maya melalui internet nampak seperti sebuah lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan nyata di sekitar anak/remaja. Oleh karena itu anak sering beranggapan bahwa di dunia maya mereka boleh saja menerapkan aturan-aturan baru yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan dunia nyata, seperti saling mengejek atau membuat lelucon yang tanpa disadari bisa melukai hati atau menjadi suatu penghinaan terhadap orang lain.
d.      Perceptions of Social Injustice and Corruption
Adanya internet menyebabkan individu yang merasa diperlakukan tidak adil berhak untuk memberikan perlawanan kembali melalui teknologi internet. Mulai dari menentang dengan mengemukakan pendapatnya, hacking sampai dengan membongkar segala hal yang dianggap rahasia namun berpotensi menimbulkan suatu ketidakadilan, sebagaimana kasus Wikileaks yang marak akhir-akhir ini. Oleh karena itu individu berpotensi untuk melakukan perlawanan yang di dalam dunia nyata membutuhkan aturan tertentu untuk mengemukakan ketidaksetujuannya tersebut.
B.     Dampak Positif teknologi internet Pada Anak dan Remaja
Disamping berbagai dampak negatif, teknologi juga berdampak positif pada perkembangan anak dan remaja. Secara umum teknologi dapat mendorong tumbuhnya ‘rasa mampu’ pada anak disamping dapat digunakan sebagai ‘alat’ untuk memecahkan masalah (problem solving). Selain itu teknologi seperti internet juga sangat membantu anak untuk memperoleh informasi yang sangat luas. Permainan dengan menggunakan teknologi berupa perangkat games juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenal prinsip-prinsip dasar dalam teamwork, kemampuan berbagi serta melatih eye-hand coordination. Namun secara rinci pengaruh positif teknologi internet terhadap berbagai aspek perkembangan anak dan remaja dapat diuraiakan sebagai berikut:
1.      Pada perkembangan fisik
Salah satu dampak positif bila teknologi internet digunakan dengan tepat adalah adanya kemungkinan untuk melakukan aktivitas fisik secara lebih leluasa tanpa terlalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Seperti game yang menggunakan dancing pad misalnya, dapat dilakukan setiap saat di waktu senggang. Selain itu informasi tentang kesehatan lewat internet juga banyak memberikan dukungan terhadap gaya hidup sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Namun manfaat ini tidak bisa langsung diperoleh anak dan remaja karena keterbatasan mereka dalam memahami informasi kesehatan yang diperolehnya. Oleh karena itu tentu dibutuhkan pendampingan dari orang dewasa atau orangtua agar anak bisa menginterpretasikan informasi yang benar tentang masalah kesehatan yang dapat mendukung perkembangan fisiknya.
2.      Pada perkembangan sosial, emosi, dan kepribadian
Banyak anak dan remaja dapat mengembangkan sense of power and accomplishment bila mereka mampu menggunakan komputer. Bila orang dewasa cenderung melakukan interaksi yang pertamakali dengan komputer karena alasan pekerjaan, maka pada umumnya anak dan remaja memulainya karena alasan bermain. Namun dari bermain itulah mereka dapat mengembangkan kreativitas, interaksi dengan teman sebaya, kemampuan berkomunikasi, bahkan memperkaya kemampuan berbahasa karena adanya kemungkinan untuk melakukan kontak dengan anak-anak dari belahan bumi yang saling berbeda.
Aspek perkembangan sosial dan emosi yang banyak didukung oleh adanya jejaring sosial melalui internet antara lain:
a.       Relationship building & Cultural Awareness
Situs jejaring social memungkinkan anak-anak dan remaja untuk bertemu teman baru dari negara lain serta membantu mereka untuk menjadi lebih peka terhadap perbedaan budaya. Anak-anak dan remaja juga mampu untuk tetap dapat saling berhubungan atau membina hubungan kembali dengan teman-teman masa lalu yang mungkin telah lama tidak bertemu atau berpisah jauh.
b.      Identity
Anak dan remaja dapat berbagi minat dengan anak lain, bergabung dengan suatu kelompok baru, mengembangkan kemandirian, terlibat dalam ekspresi diri yang positif dengan personalisasi halaman profil dan kemudian berpartisipasi dalam diskusi tentang topik-topik yang menarik bagi mereka. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam membangun sense of identity pada diri setiap anak.
c.       Self-Esteem
Berkaitan dengan pembentukan identitas di atas, jaringan sosial juga mampu membantu anak dan remaja untuk membangun harga diri dan kepercayaan dirinya.
d.      Battling Depression
Adanya dukungan sosial juga dapat sangat membantu anak, khususnya remaja, untuk mengatasi depresi yang dialaminya. Ada contoh kasus tentang Tamaryn Stevens, seorang remaja 17 tahun yang didiagnosis dengan penyakit ginjal saat dia berumur 10 tahun dan kemudian menjalani operasi transplantasi. Tamaryn menggunakan jejaring sosial bernama LiveWIRE setiap hari untuk chatting dengan teman online, mem-posting pemikiran dan bahkan meng-upload puisi ungkapan hatinya. Dia merasa sangat terbantu oleh dukungan teman-temannya melalui jejaring sosial tersebut untuk mengatasi depresinya dan membuat hari-harinya menjadi jauh lebih berbahagia.
Penggunaan (bukan kecanduan) internet juga berpengaruh positif terhadap kepribadian seseorang. Reid Steere, seorang Sosiolog dari Los Angeles mengatakan, jika seseorang menggunakan internet sebagai media eksplorasi diri dengan kesadaran penuh, ia akan mengalami pertumbuhan sebagai hasil dari refleksi dirinya secara utuh melalui internet.
3.      Pada perkembangan inteligensi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang mendapatkan pelatihan berupa simulasi melalui komputer akan menunjukkan performa yang jauh lebih baik dalam prakteknya di dunia nyata dibandingkan dengan individu yang tidak melakukan simulasi. Anak-anak zaman sekarang juga lebih baik dalam melakukan multitasking dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini tampaknya berkaitan dengan peningkatan informasi visual yang harus diprosesnya pada saat bersamaan seperti saat mereka berinteraksi dengan teknologi komputer dan internet.
4.      Pada perkembangan moral
Beberapa aksi kemanusiaan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar seperti bencana alam dapat diakses langsung oleh masyarakat luas, termasuk juga anak-anak dan remaja, yang menggunakan media elektronik dan internet. Aksi tersebut sering memicu tumbuhnya solidaritas untuk merasakan bahkan membantu individu lain yang sedang tertimpa musibah. Hal tersebut dapat mendorong perkembangan moral yang adekuat.
Rekomendasi Internet yang Baik dan Aman untuk Anak dan Remaja
Efek positif dan negatif yang seolah kontradiktif membuktikan bahwa dampak dari teknologi sangat tergantung dari penggunanya. Oleh karena itu kunci untuk menyeimbangkan efek positif dan negatif dari teknologi terhadap perkembangan anak dan remaja adalah dengan bimbingan yang tepat dan komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak. Sebuah skenario win-win solution perlu dilakukan, apabila orang tua mengijinkan anak-anak mereka untuk memaksimalkan pengaruh positif teknologi dan menyerap sebanyak mungkin manfaat teknologi. Sambil di sisi lain tentu saja tetap meminimalkan dampak negatifnya.
Salah satu hak dasar anak adalah hak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara lebih optimal. Mereka pun berhak untuk mendapatkan yang terbaik dari apa yang ditawarkan oleh teknologi, dan orangtua pun wajib untuk membimbing putra-putrinya agar dapat menggunakan teknologi dengan benar serta meningkatkan pengalaman belajarnya untuk mencapai hasil yang positif. Selain itu orang tua atau pengawas harus sempat meluangkan waktu untuk menemani si anak saat berselancar di dunia maya. Rasa ingin tahu anak-anak dan remaja kadang begitu luar biasa untuk dapat dibendung, jadi mendampinginya saat menjelajahi dunia maya adalah cara yang bijak untuk mendidik anak seputar internet dan membekali mereka langsung bagaimana menggunakan internet secara baik dan benar maupun tepat guna, walau sekadar untuk hiburan baginya. Oleh karena itu tips yang bisa dilakukan adalah:
·         Orangtua harus tahu sedikit banyaknya seluk beluk internet, dan mengerti bagaimana cara memblok konten internet yang tidak tepat untuk anak.
·         Tempatkan komputer di area keluarga/umum dan hindari menaruh komputer di ruang pribadi si anak, dan posisikan agar monitor komputer dapat diawasi dari berbagai sudut ruangan, ini memudahkan Anda mengawasi kegiatan daring (online) si anak.
·         Sebaiknya batasi lama waktu berinternet dalam sehari.
·         Berikan bookmarks/favorited situs-situs yang suka dikunjungi anak di internet untuk memudahkan akses.
·         Jika anak melaporkan ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman selama berinternet, maka responslah anak dengan bersungguh-sungguh. Berikan perhatian pada rasa tidak nyamannya dan berikan solusi yang positif.

Analisis teori :
1.      Teori Psikososial Erikson
Salah  satu  sumbangannya  yang  terbesar  dalam  psikologi  perkembangan adalah psikososial.  Istilah  psikososial  dalam  kaitannya  dengan  perkembangan manusia berarti  bahwa  tahap-tahap  kehidupan  seseorang  dari  lahir  sampai  mati dibentuk oleh  pengaruh-pengaruh  sosial  yang  berinteraksi  dengan  suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.
Terdapat keterkaitan antara artikel diatas dengan teori perkembangan psikososial Erickson, yaitu pada tahap ke 6 perkembangan psikososial : Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Isolasi, 18-35 tahun).
·         Tahap pertama dalam perkembangan kedewasaan ini biasanya terjadi pada masa dewasa muda, yaitu merupakan tahap ketika seseorang merasa siap membangun hubungan yang dekat dan intim dengan orang lain. Jika sukses membangun hubungan yang erat, seseorang akan mampu merasakan cinta serta kasih sayang.
·         Pribadi yang memiliki identitas personal kuat sangat penting untuk dapat menembangkan hubungan yang sehat. Sementara kegagalan menjalin hubungan bisa membuat seseorang merasakan jarak dan terasing dari orang lain.
Keterkaitan dampak negatif dari teknologi internet bagi psikologis anak dan remaja dengan teori psikososial Erickson
→ Jika seorang anak/remaja tidak dapat menyeimbangkan antara waktu penggunaan internet dengan waktu berinteraksi dengan dunia sosialnya. Hal itu dapat berpengaruh buruk terhadap psikologis anak/remaja tersebut, karena dapat membentuknya menjadi pribadi yang anti social dan semacamnya.
Seperti contoh : si anak menggunakan internet secara terus-menerus sepanjang harinya. Mungkin si anak akan mahir dalam menggunakan internet, mengakses apapun yang ia suka, bermain game dan sebagainya. Tetapi, ketika ia berada di luar dan harus berinteraksi dengan sekitarnya (dunia sosial) ia tidak mampu karena ia tidak terbiasa untuk bertemu orang lain selain orang rumahnya, sehingga tidak mampu untuk menempatkan dirinya dengan baik di lingkungan sosial/masyarakat.
2.      Teori Kognitif
Berbeda  dengan  teori-teori  psikoanalisis,  yang  menekankan  pentingnya pikiran-pikiran  tidak  sadar  anak-anak,  teori-teori  kognitif  menekankan  pikiran-pikiran sadar mereka. Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif  merupakan  sesuatu  yang  fundamental  dan  yang  membimbing  tingkah laku  anak.  Dengan  kemampuan  kognitif  ini,  maka  anak  dipandang  sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Chaplin  sebagaimana  Muhibbin  Syah berpendapat  bahwa  Istilah  kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah psikologis manusia yang meliputi  setiap  perilaku  mental  yang  berhubungan  dengan  pemahaman, pertimbangan,  pengolahan  informasi,  pemecahan  masalah,  kesengajaan,  dan keyakinan.
Dewasa  ini  studi  tentang  perkembangan  kognitif  didominasi  oleh  dua teori, yaitu perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi.

Keterkaitan dampak negatif dari teknologi internet bagi psikologis anak dan remaja dengan teori kognitif
® Jika seorang anak sudah kecanduan internet atau gadget maka perkembangan kognitif anak tersebut akan terhambat. Karena anak tersebut akan terus-menerus bermain dengan gadgetnya dan menghiraukan dunia luar.

Referensi :